Warta Metropolitan, Blog Warta Indonesia

Pelecehan Psikologis

Pernahkah Anda menghadapi otoritas, misalnya saja orang tua Anda sendiri, atasan, dosen, atau ketua tim dengan rasa enggan dan tertekan? Terkadang keengganan diwarnai juga rasa takut, rasa bersalah, merasa tidak berarti, tidak berharga, sampai-sampai tubuh seakan kehilangan energi untuk bicara dan tak punya ambisi untuk berprestasi. Hati-hati, mungkin tanpa disadari, Anda adalah korban pelecehan psikologis.

Saya pernah punya atasan, yang di dalam rapat kerap ’membuktikan’ bahwa anak buahnya ’lagi-lagi’ tidak berprestasi, dan ia sebagai atasan-lah yang ’lagi-lagi’ harus turun tangan menyelesaikan semua masalah. Lucunya atasan seperti ini sering sekali mengeluh dan heran karena bawahannya tidak bisa mengembangkan diri. Ia tidak sadar bahwa sikapnya mempermalukan bawahan di dalam rapat tanpa memikirkan ’muka’ bawahan, menyudutkan bawahan tentang kesalahannya, tidak memberi kesempatan bawahan membela diri dan bersikap seolah-olah kesalahan tersebut selalu dilakukan bawahan, adalah bentuk pelecehan yang sering menyebabkan karyawan tidak bisa mengembangkan diri, lalu jadi cuek dan akhirnya apatis.

Rekan bisnis saya, pernah bekerja dibawah seorang atasan yang dari luar terlihat baik dan ramah. Dengan bertambahnya pengalaman, ia tidak jadi semakin pede atau bertambah asertif. Wajahnya kerap tertekan dan seringkali saya melihat matanya berkaca-kaca tanpa alasan bila membicarakan sesuatu yang serius. Ia tidak berani mengungkapkan opininya secara gamblang dan selalu memohon maaf bila berpendapat. Yang mengherankan, setelah tidak bekerja untuk atasan yang lama, teman saya ini kemudian berbicara lebih lantang, lebih tegas dan lebih gembira. Ia mengakui bahwa ketika itu ia merasa tidak berharga dan sangat takut berbuat salah. Ia tidak sadar bahwa situasi ini sebenarnya adalah pelecehan psikologis.

Pelecehan psikologis menjadikan suasana tidak kondusif. Dan, semua orang setuju bahwa suasana tidak kondusif adalah kontra produktif. Selain karyawan merasa tidak happy dan jadi tidak optimal dalam berkinerja, gejala ini merupakan bahaya laten bagi organisasi, karena karyawan cemerlang yang tidak suka dengan suasana kerja yang tidak manusiawi akan pindah kerja. Sebaliknya, mereka yang butuh pekerjaan, rela untuk tinggal di perusahaan dan mengorbankan kesejahteraan mental dan perasaannya demi gaji bulanan.

Jangan Ulang Kesalahan
Ada individu yang terus-menerus jadi bulan-bulanan sekedar karena ia kurang gesit dalam berjalan. Ada juga atasan yang langsung ’mencecer’ individu yang pernah ketahuan bermain game di jam kerja. Kita lihat bahwa asal pelecehan psikologis tidak selamanya karena kurangnya kinerja. Berbuat salah itu wajar, tetapi membuat kesalahan berulang kali adalah tindakan yang ceroboh karena membuat Anda jadi ’terlihat’ dan berpotensi menjadi bulan-bulanan empuk. Sebagai individu, kita perlu berhati-hati dalam berkinerja. Jaga kesigapan, ketrampilan, pengetahuan, sikap dan nilai kerja anda kuat-kuat. Berpeganglah pada standar profesi yang dianut perusahaan tempat anda bekerja. Kita pun perlu memikirkan berbagai elemen pekerjaan lain selain pencapaian target, dan kepatuhan pada sistem dan prosedur.

Jangan Ragu Perjuangkan Hak
Bila sudah terkena pelecehan, pindah kerja memang bisa jadi jalan keluar singkat. Tapi, rasa dendam dan hubungan yang tidak baik, mau tidak mau bisa mencemari spirit kita untuk berkarir di kemudian hari. Bisa jadi tumbuh rasa penghargaan diri yang rendah dan tampil dalam bentuk ketidakpercayaan diri. Inilah sebabnya kita dianjurkan untuk senantiasa menjaga ’muka’ sendiri, walaupun posisi kita berada di hirarki paling bawah sekalipun. Selain berbuat dan berprestasi baik, kita selalu harus yakin bahwa kita mempunyai hak hidup, hak bicara dan hak di respek sama seperti mereka yang menduduki jabatan yang paling tinggi sekalipun.
Kita juga perlu bersikap optimis. Sekali bersikap pesimis, maka kita memberi peluang bagi orang lain untuk menginjak hak kita lebih jauh. Kita perlu belajar mengemukakan pendapat dengan cara positif. Apa kenyataan, pendapat, perasaan dan harapan Anda, perlu bisa kita sampaikan dengan gamblang. Tidak mampunya kita mengeluarkan isi pikiran dan hati kita inilah yang jadi peluang bagi orang lain untuk melihat kesalahan kita.

Ingatkan Atasan Tentang Emosi
Seorang teman berkata bahwa bila dalam rapat ada orang lain yang dilecehkan, ia merasa seperti ada di dalam rumah yang sedang cekcok. Suasana jadi muram, gundah tidak bersemangat. Hal ini bisa kita jadikan argumentasi saat mengingatkan atasan untuk tidak melakukan pelecehan psikologis. Suasana kondusif itu mahal harganya. Sekali suasana rusak, sulit untuk membangunnya kembali. Atasan juga bisa diingatkan bahwa fairness perlu dijaga, bukan saja dalam hal finansial, kesempatan, tetapi juga secara emosional. Atasan-atasan seperti ini perlu diingatkan kembali tentang apa yang kita pelajari sejak kecil, yaitu ada hal-hal yang menimbulkan rasa kecut, takut, sedih, kecewa dan tidak berharga.
Pada dasarnya semua orang tidak ingin berbuat jahat. Besar kemungkinan bila kita menggunakan bahasa emosi seperti ini atasan baru bisa menyadari bahwa dia sudah menyentuh area yang sebenarnya tidak ingin ia sentuh juga.

Sumber: Kompas.com, Sabtu 25 November 2006

0 Comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.