Warta Metropolitan, Blog Warta Indonesia

Aksiku - Toko Buku Bekas Online

Selasa, Juli 19, 2011

5 Mitos Buruk Tentang Perceraian

PestaBaca.info - Kasus-kasus perceraian yang banyak terjadi, baik dikalangan selebritis maupun masyarakat umum, ternyata sedikit banyak memberikan pengaruh bagi pasutri (pasangan suami istri) yang tengah bermasalah dalam rumah tangganya.

Alih-alih memiliki kesamaan, tak jarang kasus perceraian pasutri lain kerap dijadikan sebagai acuan untuk mengikuti langkah perceraian tersebut. Padahal, seharusnya pernikahan yang sedang bermasalah tidak harus selalu berujung pada perceraian.

Karena sigma yang kurang tepat itulah, maka tak pelak memunculkan mitos-mitos seputar perceraian. Seperti yang dikutip dari Sheknows, seorang divorce coach, Lee Block mengungkapkan 5 mitos yang sering dikaitkan dengan perceraian:

Perceraian adalah jalan keluar
Jika diresapi secara mendalam, perceraian sebenarnya merupakan pilihan yang sulit. Hal itu ditegaskan oleh Lee Block, yang mengatakan: "Aku tidak mendukung perceraian, tapi jika Anda tidak bahagia dalam pernikahan Anda dan memutuskan untuk bercerai, percayalah, itu akan menjadi pilihan tersulit bagi Anda."

Perceraian adalah wabah
Seperti 'latah', perceraian kerap dianggap bisa menular. Padahal, perceraian merupakan pilihan paling akhir yang dimiliki pasutri yang sudah tidak mampu lagi mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka, daripada mereka harus tetap bersama, namun saling menyakiti fisik maupun mental satu sama lain.

Satu pihak (suami/istri) adalah penyebab perceraian
Penyebab perceraian bisa dikarenakan banyak hal. Maka sangatlah tidak bijak melimpahkan kesalahan kepada satu pihak (suami/istri) saja, karena jika mau diusut akar permasalahannya, bisa jadi permasalahan itu justru timbul karena pihak lainnya atau hal lainnya.

Setelah cerai, semuanya akan baik-baik saja
Bukan berarti setelah bercerai, mantan pasutri akan dijamin kebahagiaannya dan membuat kondisi menjadi baik-baik saja. Lee Block menjelaskan, jika setelah bercerai, justru masing-masing mantan pasutri akan menghadapi dimensi kehidupan yang berbeda, dimana mereka harus mulai menata dan membiasakan diri dengan kehidupan baru mereka pasca bercerai.

Anak-anak akan lebih baik
Anak-anak (dibawah umur) dari orangtua yang bercerai sangat mungkin dipastikan adalah pihak yang paling tidak diuntungkan dari perceraian kedua orangtua mereka. Kemungkinan besar, akan muncul banyak "benturan-benturan" psikis yang akan mereka alami dari perceraian tersebut, apabila keberadaan mereka tidak ikut diperhitungkan dalam keputusan cerai orangtuanya, baik dari segi fisik (tumbuh kembang) maupun psikisnya. (Dee)


[hanyawanita.com]

0 Comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.