Warta Metropolitan, Blog Warta Indonesia

Tinggalkan Jerman, Ayah dan Anak Siap Mati Untuk Perangi ISIS

www.wartametropolitan.blogspot.com
CNN, Qassim Shesho berdiri di atas pegunungan Sinjar di wilayah utara Iraq, menghadap pegunungan luas yang ada di sepanjang gurun itu. Pegunungan itu kelihatannya tenang padahal tidak seperti kelihatannya.

Dia mengkhawatirkan sebuah desa yang terletak di belakangnya. Sheref ad-Din adalah salah kuil suci agama bangsa Yazidi. Markas ISIS hanya hanya berjarak sekitar 2 kilo dari kuil yang berada di desa di belakangnya.

"ISIS ingin menghabisi kami dan mereka bermaksud mendirikan kekhalifahan Islam. Tetapi Islam tidak seperti yang saat ini mereka lakukan pada kami," kata Shesho. Menurutnya saat ini dia mengomandani sekitar 2000 pejuang Yazidi.

Beberapa bulan yang lalu, dia hidup tenang di Jerman.

"Saya kembali oleh karena saudara-saudara sebangsaku berada di sini. ISIS adalah teroris. Saya datang untuk mempertahankan tanah airku, saudaraku dan agamaku," dia mengatakannya dalam bahasa arab kepada CNN melalui telephone.

Dia tidak datang sendirian. Putra Shesho yang berusia 26 tahun, Yassir Qassim Khalaf, ikut bersamanya. Yassir tiba di bulan September, sesaat setelah serangan awal ISIS pada kota Yazidi yang menyebabkan ribuan orang terdampar di pegunungan tanpa makanan, air dan obat-obatan.

Tentara Angkatan udara Iraq dan para pejuang Kurdi yang tergabung dalam pasukan yang bernama Peshmerga, telah menyelamatkan beberapa keluarga dalam sebuah misi dramatis dengan menggunakan Helikopter. Angkatan Udara Amerika Serikat ikut andil dalam membersihkan jalan-jalan dari ancaman serangan ISIS bagi ribuan para pengungsi kaum Yazidi untuk melarikan diri melalui pegunungan menuju negeri tetangganya di Suriah dan wilayah bangsa Kurdi di Iraq.

Namun mimpi buruk terus berlangsung bagi ribuan pengungsi yang masih tersisa di pegunungan, terkepung oleh tentara ISIS yang terus menerus menghabisi siapapun yang diketemukan mereka.

"Kamu tidak bisa terus tinggal di Jerman, hidup dengan kemewahan dan meninggalkan saudaramu dan saudara sebangsamu sendirian sementara kamu menyaksikan semuanya di televisi, pikir, itu egois,"ujar Yassir saat di Jerman.

Pasukan yang berada di bawah komando Shesho sejatinya bertempur untuk mempertahankan keberadaan bangsanya.

Bangsa Yazidi adalah salah satu dari komunitas beragama yang paling tua di dunia. Dengan jumlah penduduk diperkirakan hanya sekitar 700 ribu jiwa. Mereka telah menderita mengalami penganiayaan selama berabad abad. Orang-orang muslim menuduh mereka para pemuja setan.

Bangsa Yazidi yang ditawan oleh ISIS dipaksa untuk memeluk Islam.Saat ini tersiar laporan-laporan mengerikan mengenai nasib para wanita Yazidi yang dijadikan budak, diperkosa dan dijual oleh para anggota ISIS. Sementara para kaum lelaki dan anak-anak lelaki dieksekusi.

PBB menyimpulkan bahwa aksi-aksi ISIS ini mungkin bermaksud untuk melakukan usaha pemusnahan secara besar-besaran.

Dia datang untuk "mempertahakan" BUKAN untuk "bertempur"

"Saya memutuskan untuk ikut mempertahankan Sinjar, bukan untuk bertempur. (sedangkan) Mereka untuk bertempur," ujar Shesho berbicara mengenai ISIS."Kami mempertahankan tanah air kami dan tempat-tempat suci kami. Saya telah tinggal di Jerman selama 24 tahun dan selalu membenci pembunuhan dan perkelahian."

Pasukan Shesho menerima bantuan senjata-senjata dan kemanusiaan dari pemerintah lokal bangsa Kurdi. Pasukan Kurdi menjatuhkan bantuan makanan dan persenjataan dari udara. Angkatan udara Amerika Serikat yang memerangi ISIS juga membantu mereka tetapi menurut Shesho itu belum cukup.

"ISIS ingin menguasai dunia. Kami ingin agar lebih banyak lagi angkatan udara Amerika Serikat diantaran Sinjar dan Dahouk sehingga kami dapat kembali ke tanah air kami dan hidup damai di sana.

5 orang anak Shesho menyertainya dalam pertempuran melawan ISIS di pegunungan. Tiga orang telah kembali ke Jerman. Sementara Yassir dan kakaknya, Haydar Qassim Shesho tetap tinggal.

Mereka berusaha tetap berhubungan dengan teman-teman dan para saudaranya di Jerman sebisanya selama pertempuran akan tetapi sinyal yang buruk menyulitkan mereka. Menurut Yassir, ibunya mengkhawatirkan mereka, namun mereka berusaha menenangkannya.

"Tiga kali seminggu, kami berusaha mengirimkan foto-foto dan pesan-pesan kami untuk mengabari bahwa semuanya baik-baik saja di sini dan tidak ada yang perlu dia khawatirkan," ujar Yassir.

"Saya tidak tahan menyaksikan kezaliman"

Tahun 1990, Keluarga mereka masih tinggal di Iraq. Saat itu Saddam Hussein masih berkuasa di sana. Mereka pindah ke Jerman dan akhirnya menjadi warga negara Jerman. Saat itu Yassir masih berumur 2 tahun.

Saat saya berada di Jerman, saya bersyukur bahwa saya dapat tinggal di sana. Akan tetapi jika waktunya sudah tiba, saya siap untuk mati di sini," ujarnya.

Sebelum pergi ke Iraq, Yassir bekerja paruh waktu di sebuah usaha kerajinan tangan untuk para perusahaan dan hotel-hotel di sekitar rumahnya.

"Sesungguhnya dari awal saya ingin berada di sini sebab saya tidak tahan menyaksikan penderitaan kaum Yazidi...betapa kehormatan dari keluarga dan para istri-istri kami dikotori saat ditawan,"

"Berangkat dari kemewahan menuju peperangan adalah tidak menyenangkan, akan tetapi kamu harus lakukan apa yang memang harus kamu lakukan."

(Terjemahan dari laporan Yousuf Basil buat CNN, mohon maaf jika ada kesalahan/ketidaklengkapan terjemahan - Djefi)
Read More..