Warta Metropolitan, Blog Warta Indonesia

Aksiku - Toko Buku Bekas Online

Jumat, September 03, 2010

Taxus Sumatrana Si Pembunuh Virus Penyebar Kanker

Pontianak - Kabar gembira bagi kaum perempuan, Departemen Kehutanan mengakui senyawa kimia tak-sol dari tanaman taxus di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) mampu membunuh virus penyebar kanker di dalam tubuh manusia, seperti kanker payudara dan rahim."Khasiat taxus di Kerinci Seblat tidak ada duanya di dunia".
Ini hasil penelitian lintas disiplin ilmu yang dimotori Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan," ujar Masyhud, Kepala Pusat Informasi Kehutanan Departemen Kehutanan, kepada SH, beberapa waktu lalu.

Taksol adalah senyawa kimia dipertenoid tipe taksan yang telah diisolasi dari spesies taxus. Taxus sumatrana atau dikenal dengan Sumatran yew (cemara sumatera) merupakan satu-satunya jenis taxus yang tumbuh di Indonesia, yaitu di laman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Luas Taman Nasional Kerinci Seblat (hasil tata batas) ditetapkan seluas 1.368.000 hektare dengan perincian seluas 353.780 hektare (25,86%) terletak di Provinsi Sumatera Barat; seluas 422.190 hektare (30,86%) terletak di Provinsi Jambi; seluas 310.910 hektare (22,73%) terletak di Provinsi Bengkulu; dan seluas 281.120 hektare (20,55%) terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat tersebar di sembilan kabupaten, 43 kecamatan dan 134 desa.

Menurut Masyhud, taxus tumbuh secara alami di TNKS pada ketinggian 1.400-2.300 meter dari permukaan laut pada punggung-punggung bukit atau tepian jurang. Kulit, daun, cabang, ranting dan akar dari genus taxus merupakan sumber taxane, di mana paclitaxel atau lebih dikenal dengan merek dagang Taxol diekstraksi, sebagai obat yang sangat sukses digunakan dalam pengobatan kemoterapi untuk berbagai jenis kanker.

Seiring dengan tingginya tingkat eksploitasi yang dilakukan untuk memperoleh bahan aktif taxane di dunia farmasi, populasi taxus di dunia telah menurun secara drastis. Permintaan fenomenal terhadap bahan aktif paclitaxel dan berbagai senyawa golongan taxane lainnya berlangsung mulai tahun 1990-an dan sampai saat ini paclitaxel merupakan obat antikanker paling dicari di dunia.

Sejak tahun 2005, genus taxus telah dimasukkan ke dalam Appendix II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) atau konvensi perdagangan internasional untuk spesies-spesies tumbuhan dan satwa liar. Ini merupakan suatu pakta perjanjian yang berlaku sejak tahun 1975. Pemerintah Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut dengan Keputusan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1978.


Kurang Perhatian

Masyhud mengatakan, tidak seperti jenis taxus lainnya yang tumbuh di Eropa dan Amerika yang sudah banyak diteliti, Taxus sumatrana yang tumbuh di Indonesia hanya mendapatkan sedikit perhatian. Padahal, jenis ini merupakan salah satu jenis yang potensial untuk dikembangkan, baik untuk tujuan konservasi maupun produksi.

"Salah satu penelitian yang telah dilakukan untuk jenis ini adalah dari aspek keragaman genetik dan uji stek. Berdasarkan hasil penelitian, meskipun habitat alami Taxus sumatrana di Indonesia hanya diketahui ada di kawasan Kerinci Seblat, namun jenis ini memiliki keragaman genetik dalam populasi yang cukup tinggi, sedangkan keragaman genetik antarpopulasi tergolong sedang," ujar Masyhud.

Pertanyakan vegetatif jenis ini berhasil dilakukan dengan media terbaik, yaitu cocopit, sekam pada perbandingan.21 v/v dengan menggunakan metode pengkabutan. Persentase stek hidup dan berakar mencapai 66,7%. (aju)

Sumber: Plantamor.com

0 Comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.